Search
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -H1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • https://www.cnbcindonesia.com/fintech/20180907154501-37-32245/waspadalah-ojk-temukan-lagi-182-fintech-ilegal-baru
    MSCI NOVEMBER 2018 SEMI-ANNUAL INDEX REVIEW

    (Announcement date: November 13, 2018, Effective date: December 3, 2018)

    ...
    See More
    INDONESIA

    •MSCI Global Standard Indexes List
    Additions : PTBA, TKIM
    Deletions : LPPF, WSKT

    •MSCI Small Cap Indexes List
    Additions : LPPF, POOL, WSKT
    Deletions : BBKP, HRUM, ITMG, MNC INVESTAMA, MDLN, SILO, VISI MEDIA ASIA

    NEXT
    February 2019 Quarterly Index Review : Announcement date February 11, 2019, Effective date March 1, 2019

    ******************

    (LS/OCBC, Source : MSCI - Disclaimer On)
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • Rekap Laba (-Rugi) Emiten 9M18 vs 9M17
    31.10.17

    BANK & FINANCE
    • BBRI Rp23.5t vs Rp20.5t
    ...
    See More
    • BBCA Rp18.5t vs Rp16.8t
    • BMRI Rp18.1t vs Rp15.1t
    • BBNI Rp11.4t vs Rp10.1t
    • BDMN Rp2.69t vs Rp2.75t
    • BNGA Rp2.59t vs Rp2.19t
    • BBTN Rp2.24t vs Rp2.00t
    • PNBN Rp2.11t vs Rp2.09t
    • BTPN Rp1.62t vs Rp1.37t
    • BNII Rp1.49t vs Rp1.45t
    • ADMF Rp1.35t vs Rp1.09t
    • BJBR Rp1.34t vs Rp1.07t
    • BFIN Rp1.09t vs Rp842t
    • BJTM Rp1.06t vs Rp1.01t
    • BTPS Rp698m vs Rp469m
    • BNLI Rp494m vs Rp707m
    • BBKP Rp327m vs Rp199m
    • CFIN Rp226m vs Rp164m
    • AGRO Rp166m vs Rp102m
    • WOMF Rp152m vs Rp101m
    • BRIS Rp151m vs Rp127m
    • BABP Rp102m vs -Rp70.9m
    • MCOR Rp67.6m vs Rp60.3m
    • PNBS Rp11.8m vs Rp15.1m
    • BBHI -Rp19.5m vs Rp7.58m
    • POOL -Rp75.6m vs Rp61.4m

    TELCO, TECH & MEDIA
    • TLKM Rp14.2t vs Rp17.9m
    • TOWR Rp1.71t vs Rp1.63t
    • SCMA Rp1.19t vs Rp1.09t
    • MDIA Rp226m vs Rp277m
    • MTDL Rp191m vs Rp155m
    • ASGR Rp138m vs Rp136m
    • BALI Rp43.8m vs Rp24.6m
    • CENT Rp32.2m vs -Rp78.8m
    • MARI Rp25.3m vs Rp29.8m
    • VIVA -Rp204m vs Rp217m

    CONSUMER & PHARMACY
    • HMSP Rp9.69t vs Rp9.34t
    • UNVR Rp7.30t vs Rp5.23t
    • ICBP Rp3.48t vs Rp3.04t
    • INDF Rp2.82t vs Rp3.26t
    • KLBF Rp1.80t vs Rp1.78t
    • MYOR Rp1.10t vs Rp928m
    • MLBI Rp799m vs Rp921m
    • SIDO Rp480m vs Rp380m
    • TCID Rp150m vs Rp162m
    • ROTI Rp103m vs Rp97.3m
    • HOKI Rp70.8m vs Rp36.3m
    • CLEO Rp46.8m vs Rp38.1m
    • CEKA Rp41.1m vs Rp75.1m
    • ADES Rp35.5m vs Rp23.2m
    • PYFA Rp32.5m vs Rp59.6m

    RETAIL
    • LPPF Rp1.49t vs Rp1.50t
    • FAST Rp96.8m vs Rp104m
    • HERO Rp86.2m vs Rp70.4m
    • MCAS Rp60.8m vs Rp7.22m
    • CSAP Rp55.4m vs Rp57.3m
    • RANC Rp32.7m vs Rp28.2m

    PROPERTY & RELATED
    • ELTY Rp3.10t vs -Rp17.4m
    • PWON Rp1.78t vs Rp1.42t
    • PPRO Rp306m vs Rp275m
    • BEST Rp153m vs Rp283m
    • ARNA Rp116m vs Rp83.9m
    • SSIA -Rp65.6m vs Rp1.23t
    • MDLN limited review

    CONSTRUCTION
    • WSKT Rp4.49t vs Rp2.92t
    • WSBP Rp885m vs Rp8.25m
    • WIKA Rp860m vs Rp683m
    • ADHI Rp335m vs Rp205m
    • WEGE Rp289m vs Rp175m
    • WTON Rp279m vs Rp220m
    • ACST Rp91.2m vs Rp111m
    • IDPR Rp31.5m vs Rp78.4m
    • DGIK -Rp77.8m vs Rp20.3m

    INFRASTRUCTURE RELATED
    • JSMR Rp1.77t vs Rp1.90t
    • AKRA Rp1.29t vs Rp1.02t
    • BUKK Rp386m vs Rp151m
    • IPCC Rp147m vs Rp107m
    • KARW $692rb vs $1.74jt
    • MPOW -Rp3.19m vs Rp9.73m
    • PGAS limited review

    AUTO & HEAVY EQUIPMENT
    • ASII Rp17.1t vs Rp14.1t
    • UNTR Rp9.07t vs Rp5.64t
    • AUTO Rp414m vs Rp370m
    • SMSM Rp400m vs Rp346m
    • KOBX $1.86jt vs $1.14jt

    MANUFACTURING
    • SRIL $70.5jt vs $47.2jt
    • FASW Rp867m vs Rp285m
    • POLY $16.8jt vs -$5.97jt
    • WOOD Rp180m vs Rp138m
    • KBLI Rp105m vs Rp285m
    • MOLI Rp63.7m vs Rp63.4m
    • BOLT Rp61.3m vs Rp82.5m
    • MARK Rp58.8m vs Rp32.2m
    • CINT Rp12.1m vs Rp20.6m
    • DPNS Rp9.37m vs Rp4.79m
    • INRU $452rb vs -$86rb
    • KBRI -Rp124m vs -Rp76.6m
    • NIKL -$3.20jt vs $391rb
    • KRAS -$37.4jt vs -$75.0jt

    TRADE & SERVICES
    • ABMM $30.2jt vs $9.54jt
    • BIRD Rp335m vs Rp302m
    • PSSI $12.1jt vs $1.35jt
    • SHIP $8.15jt vs $7.50jt
    • PRDA Rp106m vs Rp98.9m
    • ASSA Rp106m vs Rp73.1m
    • TPMA $5.87jt vs $2.79jt
    • SAME Rp50.4m vs Rp71.1m
    • DYAN Rp23.1m vs -Rp36.8m
    • TMAS Rp11.7m vs -Rp10.9m
    • INTD Rp3.78m vs Rp1.66m
    • SILO Rp2.99m vs Rp62.9m
    • APOL audit

    OIL & MINING RELATED
    • BYAN $388jt vs $215jt
    • INCO $55.2jt vs -$19.6jt
    • DOID $49.6jt vs $31.4jt
    • MYOH $21.5jt vs $8.63jt
    • ELSA Rp221m vs Rp85.6m
    • KKGI $2.42jt vs $8.34jt
    • BOSS Rp30.2m vs Rp20.8m
    • RIGS -$4.81jt vs -$8.24jt
    • BRMS -$93.9jt vs -$96.6jt
    • PTBA pending
    • TINS limited review
    • MEDC limited review
    • PSAB limited review

    AGRICULTURE & POULTRY
    • JPFA Rp1.67t vs Rp802m
    • AALI Rp1.12t vs Rp1.37t
    • SIMP Rp84.4m vs Rp378m
    • MGRO Rp45.4m vs -Rp17.3m
    • SGRO Rp169m vs Rp203m
    • BWPT -Rp266m vs -Rp209m
    ***
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -W1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • Majalah Tempo this week

    Konglomerat Theodore Permadi Rachmat, yang telah melewati masa-masa ekonomi sulit, mengatakan jangan melihat ekonomi dari devaluasi nilai tukar semata. Menurut dia, inflasi tinggi lebih mengerikan karena membuat masyarakat bawah tak sanggup membeli kebutuhan pokok.
    SAAT kebanyakan pelaku usaha kelimpungan melihat rupiah yang limbung, Theodore Permadi Rachmat, 74 tahun, adem-ayem saja. Pengalamannya berbisnis selama lima puluh tahun membuatnya yakin bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisi ekonomi Indonesia sekarang. “Di masa Presiden Soeharto, devaluasi sering sekali. Enggak ada masalah. Ini mah kecil,” ujar pendiri Triputra Group itu.

    ...
    See More
    Theodore telah melewati masa-masa ekonomi sulit, dari 1997-1998, 2005, 2008, hingga terakhir tahun ini. Ia meminta kondisi ekonomi tidak dilihat dari penurunan nilai tukar semata. Rupiah yang melemah, kata dia, hanya berdampak hebat terhadap importir. Selama konsumen tidak menggunakan barang impor, tidak ada pengaruhnya. “Inflasi tinggi lebih mengerikan karena membuat masyarakat bawah tidak sanggup membeli barang kebutuhan pokok,” ujarnya kepada wartawan Tempo Reza Maulana dan Andi Ibnu dalam wawancara khusus di kantor PT Kirana Megatara—anak usaha Triputra yang bergerak di bidang perdagangan karet—di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu petang pekan lalu.

    Ia menilai situasi perekonomian Indonesia saat ini berbeda dengan masa krisis ekonomi 1998. Kala itu, perbankan terkena krisis dan inflasi melambung hingga 77 persen. Saat ini, inflasi Indonesia 3,2 persen. Pada 1998, selain ekonomi, politik mengalami krisis.

    Lulus dari Institut Teknologi Bandung pada 1968, Theodore ikut pamannya, William Soeryadjaya, yang saat itu sedang membangun Astra—perusahaan multinasional yang kini mempekerjakan lebih dari 200 ribu karyawan di 200-an anak perusahaan. Sarjana teknik mesin itu mendapat nomor karyawan 16 dengan tugas menjual alat-alat berat. Teddy—panggilan Theodore—mengakhiri kariernya di Astra pada 1998, setelah 14 tahun menjadi presiden direktur.

    Ketimbang bermain golf pada masa pensiun, Theodore memilih mendirikan PT Triputra Investindo Arya, yang menjadi perusahaan induk Adira Mobil dan Adira Finance. Penjualan Adira Finance ke Bank Danamon Tbk pada 2004 membuat perusahaan itu merambah ke berbagai sektor. Triputra Group kini bergerak di bidang perkebunan, manufaktur, pertambangan, dan perdagangan. Pendirinya pun menjadi orang nomor 19 terkaya di Indonesia versi majalah Forbes.

    Sebagai pengusaha, bagaimana Anda membandingkan situasi sekarang dengan krisis ekonomi 1997-1998?

    Bedalah. Waktu itu, perbankan rusak. Inflasi tinggi (sempat menyentuh 77 persen). Sekarang inflasi kita 3,2 persen. Sebelum tiga tahun terakhir, inflasi kita tidak pernah di bawah 5 persen. Itu yang penting. Inflasi jangan naik. Lagi pula, kenapa harus naik? Beras dibikin di Indonesia, cabai dibikin di Indonesia. Tidak impor. So, why worry?

    Anda memimpin Astra saat krisis ekonomi pecah. Apa masalah terbesar yang Anda hadapi?

    Market hancur. Orang enggak ada yang beli mobil dan sepeda motor. Harga naik karena komponen impor dan dibayar pakai dolar. Sekarang beda. Baru saja kami ngomong dengan para dealer sepeda motor, harga jual mereka enggak naik. Waktu 1998, yang krisis bukan hanya ekonomi, tapi juga politik. Saat itu orang menganggap Pak Harto overstayed. Dia berkuasa sejak 1966 sampai 1998, sudah 32 tahun. Kelamaan.

    Mungkinkah pemilihan presiden dan Pemilihan Umum 2019 memperlemah rupiah?

    Menurut saya, tidak, karena aturan main di politik lebih ketat. Jauh benar dengan situasi 1998.

    Apa pandangan Anda terhadap upaya pemerintah menahan pelemahan rupiah?

    All in all, it’s okay. Pemerintah memotong biosolar 20 persen, impor dikurangi, penjadwalan ulang proyek-proyek besar. Sudah benar semua. Saya punya rasa hormat yang tinggi sekali kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia. Di bawah Pak Agus Martowardojo dan Perry Warjiyo, Bank Indonesia sudah melakukan langkah-langkah yang tepat. Sekarang, setiap kali beli dolar mesti ada underlying transaction. Jadi terkontrol. Yang penting, jangan panik. Tahun depan pemerintah menargetkan defisit fiskal kita kurang dari 2 persen. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Penyebabnya, banyak uang masuk dari pajak.

    Ada yang bilang amnesti pajak tidak berpengaruh....

    Jangan bilang tax amnesty is not working. Saya lihat, mungkin 90 persen pengusaha ikut tax amnesty. Mereka yang tidak ikut sekarang kepayahan. Mau beli mobil saja ketahuan. Hidup ketakutan terus. Enggak tahu mau bagaimana. Jadi Indonesia should be okay. Walaupun banyak hal yang masih bisa dilakukan pemerintah.

    Apa saja yang bisa dilakukan?

    Kenapa harga bahan bakar minyak tidak dinaikkan sesuai dengan nilai keekonomian? Padahal defisit transaksi neraca berjalan paling besar ada di impor bahan bakar minyak. Dengan menaikkan harga BBM, konsumsi akan turun dan transaksi neraca berjalan juga turun. Seperti kata Muhammad Chatib Basri (Menteri Keuangan 2013-2014), ini obat yang paling manjur.

    Tapi tidak populis di tahun politik....

    Ya, ini tahun politik. Pak Harto dulu jatuh setelah menaikkan Premium dari Rp 700 menjadi Rp 1.200 per liter. Di masa Susilo Bambang Yudhoyono, saya menjadi anggota Komite Ekonomi Nasional. Waktu itu, beban subsidi BBM sampai Rp 300 triliun. Pemerintah selalu berhati-hati menaikkan harga bensin. Takut ada demonstrasi dan sebagainya. Padahal itu wasted semua. Sekarang juga begitu. Tujuh bulan lagi pemilihan presiden dan pemilihan umum. Ini pilihan politik.

    (Pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaikkan harga Premium dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 pada 22 Juni 2013.)

    Dari kacamata ekonomi, kenaikan harga BBM tak bisa ditawar?

    Saya bukan orang politik. Tapi, dari pertimbangan ekonomi, ya, naikkan saja.

    Beberapa waktu lalu, Anda dipanggil Wakil Presiden Jusuf Kalla. Membicarakan apa?

    Saya sampaikan, program biofuel B20 sudah bagus, mengganti 20 persen impor solar dengan konten lokal, yaitu minyak kelapa sawit. Kalau jalannya sudah benar, kenapa tidak dipercepat? Misalnya ke B25 atau B30. Saya juga sampaikan usul tambahan, yaitu kembali menerapkan biaya fiskal luar negeri. Itu sama dengan ajakan menghabiskan uang di dalam negeri saja. Kenapa mesti spend di luar negeri? Pariwisata di Indonesia kan banyak dan bagus.

    Apakah pengusaha memandang pelemahan rupiah sekarang sudah pada tahap mengkhawatirkan?
    Like - Comment - Share 1 1 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On
  • #SILO -D1
    Like - Comment - Share 0 0 0

    Share On

No results to show

No results to show

Sponsored